Showing posts with label Typography. Show all posts
Showing posts with label Typography. Show all posts

March 15, 2016

Tuhanku

Tuhanku
jika benar semua ini hanyalah sebuah panggung
sandiwara-Mu, lalu kenapa Kau memilihku 
untuk jadi pemain utama dalam skenario-Mu?

March 14, 2016

Rajutan

Kau pernah memberiku sebuah rajutan
di tengah kebisingan,
yang kau titipkan lewat embusan
angin malam.

Setiap malam, aku ciumi rajutan
itu dari satu sisi ke sisi yang lainnya.
Seperti saat ayahku menciumi keningku
ketika aku kaku dalam bertutur kata.

Rajutan itu sebenarnya hanya rajutan biasa,
yang kau rajut dari ribuan harapan dan doa
setiap malamnya.

Namun,
rajutan itu kini berbeda dari sebelumnya.
Ia berdebu, rapuh, dan mulai tak kuat simpulnya.
Mungkin saja, harapan dan doamu
bukan lagi untukku semata.

Tetap saja, 
aku merindukan rajutan biasamu
yang kau rajut dari ribuan harapan dan doa.

October 28, 2015

Puisi Ayah

Ku temukan sebuah puisi
yang hinggap di atas meja tua
Puisi itu milik seorang Ayah
yang telah lama ditinggal anaknya.
Puisi itu terbaring cukup lama
sejak terbit hingga terbenamnya surya,
di balik malunya cakrawala.

Puisi itu kini aku bawa
Aku bacakan di depan anak-anak
di bawah pohon saat bulan purnama.
Anak-anak pun mendengarnya dengan seksama.
Seakan-akan aku membacakan sebuah dongeng hebat,
seperti dongeng terjadinya danau toba.
Ada yang terdiam, ada yang kebingungan
ada yang hanya mengangguk-angguk, dan ada
yang mulai meneteskan air mata.

Puisi itu kini telah usai aku baca
bersama anak-anak,
yang sejatinya 
telah lama ditinggal oleh Ayahnya.


September 27, 2015

Waktu

Andai aku bisa 
membeli waktu
aku ingin membeli 
1000 tahun waktu
yang aku simpan 
di dalam laci meja belajarku.
Jika diantara kita tengah 
kehabisan waktu, maka aku
akan buka laci meja belajarku,
dan aku berikan waktu itu
sepenuhnya untukmu.

August 8, 2015

Begitu

Dari sekian banyak cerita tentang masa lalu, hanya masa lalumu yang selalu menjadi bayangan kehidupanku. Aku sempat mencari tahu tentang kehadiran beberapa orang yang sempat mengisi kekosongan hatimu, dan aku tahu mereka bahkan sebelum aku tanyakan hal itu padamu. Memang, sedikit arus yang menjadikan aku bertanya-tanya "Apa yang seharusnya menjadi ketiadaan pada rasa gelisahku sekarang?".

Beberapa kali, aku selalu mencoba untuk diam dan sedikit menghela nafas panjang. Membiarkan waktu berjalan begitu saja melewati garis-garis cakrawala, dan membiarkan tangan ini membentang, tubuh ini terbaring lemas di atas kebingungan. Ditambah keseharianku yang dikait-kaitkan perihal kegundahan, semakin kesini, semakin aku rasakan kejanggalan.

Dan aku bertanya kepada pohon, langit, bahkan semut-semut yang berjalan dibawah kaki ku -yang membawa sebutir nasi yang mereka angkut bersamaan-, mereka pun tak ayal diam. Dan setiap kali aku ingin bertanya kepadamu, menceritakan beberapa kejanggalan itu, rasanya aku tak mampu. Aku tak mampu mengutarakannya di depanmu, aku hanya bisa membayangkan, berbicara dari hati, dan memikirkannya seperti soal Hukum Newton tentang aksi dan reaksi. Bahwasannya ketika kita melakukan sesuatu hal dengan serius dan nyata, serta doa yang kuat, Tuhan akan berikan apa yang kita harap. Namun sayang, aku selalu lalai dalam hal ini. Aku luput. Aku tak mampu melawan rasa itu sendirian. Mungkin benar, ketika kita ingin membangun hidup yang lebih baik, kita memerlukan rekan kerja yang baik pula. Dimana rekan kerja itu menjadi bagian hidup dari kita, yang tak dipisahkan oleh jarak, waktu, dimensi, dan kata.

Dan dari ribuan pertanyaan yang mengganjal dari balik perasaanku, hanya satu yang menjadi puncak atas gunungan itu, "Bisa kah aku membahagiakanmu?"

Begitu, dengan rasa malu.

July 18, 2015

Di Sebuah Meja Makan

Ayahku adalah seorang nelayan
Ia mengembara lautan
dari utara ke selatan.
Setiap pulang kerumah,
Ia selalu membawa ikan.
Tak terkira girangnya
aku dan ibu menanti
ikan bakar.

Setelah makan malam,
biasanya ayah memberiku 
nasehat-nasehat sedang.
Tak berat, tak juga ringan
Begini pesannya:
"Nak, kelak kau akan jadi bapak.
Sekolah yang tinggi, jangan seperti bapak.
Hanya sebagai nelayan, yang penghasilannya
diombang-ambingkan ikan.
Bawa keluargamu keluar dari 
derasnya ombak lautan.
Bawa isterimu ke sebuah ranjang,
bukan gulungan tikar.
Bawa anak-anakmu pergi merantau,
menikmati ciptaan Tuhan"

Begitu pesan ayah disampaikan
dibawah remang-remang lilin
disebuah meja makan.

July 2, 2015

Ibu

#Pakpolisiblog #Day15

Cerita itu berawal dari kerinduan seorang anak kepada ibunya, yang telah lama pergi, meninggalkan sanak saudara, keluarga, suami, dan ketiga anaknya. Ia takkan pernah kembali, sekalipun kembali, ia hanya muncul dalam mimpi.

Ibu tiga anak itu sangat bersahaja. Ia mencintai ketiga anaknya sama rata, tidak dibeda-bedakkanya asi, asupan gizi, dan piranti bayi. Sejak kecil mereka dididiknya dengan santun, ramah, dan senyum lebar, dan penuh gelak tawa. Ketiga anak itu tak ayal selalu memeluk ibunya kerap kali ibunya menidurkan mereka dengan dongeng masa lampau, kisah cinta ayah ibu mereka yang semerbak di taman kota.

Sore itu hujan lebat. Seorang pria membawa sapucuk bunga mawar merah merona, yang akan diberikannya kepada seorang wanita anggun dari desa. Hujan lebat itu diiringi angin dan daun-daun yang runtuh dari batangnya. Ia pun basah kuyup dibuatnya. Namun, semangat pria tersebut seperti hujan lebat yang menerpannya, takkan reda sebelum cahaya terang memberinya isyarat untuk sejenak tiada.

Wanita itu berteduh dibawah pohon rindang. Dinaungi dedaunan yang lebat, akar yang menjulang, yang liar kemana-mana, dan seekor tupai yang juga kedinginan rupannya. Pria itu lekas menghampirinya, dan diberikannya bunga itu. "Ini untukmu".

Belum sempat melanjutkan cerita, listrik padam. Dan sontak ketiga anak itu berteriak kencang, dan sang ibu memeluk mereka erat-erat seraya berkata "tenang, nak. Ibumu akan melindungimu". Kemudian ayah mereka datang membawa cahaya, cahaya redup dari sebatang lilin cina. Malam itu, akhirnya mereka tidur berlima, dan ketiga anak itu dipeluk erat oleh ayah ibunya.

.......


June 30, 2015

Takkan

#Pakpolisiblog #Day13

Entah, aku mulai bingung dengan sikapmu yang seperti itu. Kadang aku ingin mengulang waktu dimana bunga-bunga tumbuh semerbak harumnya di wajahmu, senyumu yang lebar itu, kadang membuatku lupa oleh beban yang aku pikul beberapa waktu lalu.

Tapi perasaan seperti itu kini telah pudar. Kita telah saling kenal, dan kau, hanya menjadi bayang-bayang. Seperti layangan, yang diterbangkan, di tarik ulur oleh kanak-kanak, dan mereka tertawa. Menangis. Bersaing antara satu pemain dengan pemain lainnya.

Hanya begitu saja. Aku ingin perasaan seperti dulu datang dan tumbuh di ladang hati kita. Sekat dinding antara jarak menjadi faktor utama penyebab suasana menjadi kacau balau, porak poranda, hancur seperti bangunan habis terserang gempa.

Aku takkan memainkan layang-layang di tengah terik panasnya siang.

June 29, 2015

Lebaran

#Pakpolisiblog #Day12

Aku hanya ingin
waktu yang berputar
semakin lama semakin
cepat menyentuh lebaran

Karena aku ingin segera
maaf-maafan 
meminta uang
dan akhirnya
kita dipertemukan.

June 28, 2015

Rooftop

#Pakpolisiblog #Day11

Malam memang selalu identik dengan lagu minor. Di atas rooftop, kami menyenandungkan dua lagu andalan kami. Rindu dan Saidja, dua lagu yang menjadi penyejuk suasana haru di malam kami berada bersama berlalu malam itu.

Tatkala, sebenarnya ini adalah malam terakhir kami bersama. Di seberang nun jauh disana, melambai-lambai sebuah kota kecil, diantara kota-kota besar di Jawa Barat. Kepergiaannya mungkin menjadi sangat berarti, dari seminggu, menjadi sebulan penuh Ia meninggalkanku dengan kesedihan dan keharuan.

Lagu kembali berkumandang. Menyejukkan malam, dan mengisi sela-sela malam yang kosong dengan kedustaan. Membangunkan hasrat bercinta kucing tetangga yang mengeong-ngeong sejak tadi senja. Daun-daun ikut menari, kekanan dan kekiri. Bulan tersenyum lebar, langit biru gelap menjadi biru cerah. Malam itu sangat indah.

Hanya saja, setelah kejadian itu semua berakhir, aku terbangun dari tempat tidurku yang usang. Memukul-mukul wajah, menatap pintu kamar yang melongo karena hari sudah siang ternyata. Siang itu menjadi berat, ketika rinduku kepadamu jatuh pada malam yang haru. Dimana semua yang ada disekitar rooftop itu mengikuti irama bernyanyiku, berdendang, saling memupuk rasa kasih sayang pada pasangannya masing-masing.

June 26, 2015

Benang Cinta dari Tuhan

#Pakpolisiblog #Day9

Tuhan
jika memang demikian 
cinta itu Kau berikan,
tolong
jaga keutuhuan cinta ini
hingga benang yang menyangkut
di pekik orang-orang
menjadi benang
keadilan.

June 25, 2015

Setetes Air Mata

#Pakpolisiblog #Day8

Suatu malam, ketika dihanyutkan oleh rasa resah dan kesedihan, seorang anak kecil duduk termangu menatap langit yang bersinar kuning karena cahaya rembulan. Ia bertanya pada rembulan yang mungil bentuknya, bak mangkok mie ayam. "Bulan, kenapa manusia diciptakan untuk saling menyayangi?" bulan pun menjawab demikian "Akankah lebih indah jika memang ada rasa saling menyayangi antar manusia? Karena selama ini, aku tak pernah merasakan hal itu, walau hanya setetes air mata saja"

Anak itu kembali termangu. Menatap langit-langit yang rapuh dan berdebu. Sesekali pandangannya tajam kepada langit, dan tangannya kadang pula menengadah dan bibirnya komat-kamit seraya meminta doa. Akhirnya anak itu mengambil pensil dan secarik kertas dari tas sekolahnya. Ditulisnya puisi, berikut bunyinya

Malam yang berdebu
Langit yang termangu
Seorang anak kecil lugu
Sendiri 
duduk diatas bangku

Setelah menulis puisi, ia membacanya berulang-ulang. Semakin dibaca, semakin bingung ia memaknai puisinya sendiri. Bahkan, jangkrik dan tikus yang sejenak singgah pun, ikut ambil pusing memaknai puisi anak tersebut.

Malam kembali hanyut oleh rasa resah dan kesedihan. Kini datang pada bulan, yang belum pernah merasakan rasa kasih sayang, walau hanya setetes air mata saja.

June 24, 2015

Pada

#Pakpolisiblog #Day7

Pada bunga yang layu
Pada sumur yang kering
Pada tanah-tanah yang tandus
Aku bersaksi
tidak kan pernah hadir
bidadari ke bumi
kecuali itu 
hanya kehadiranmu.

June 22, 2015

Kopi Hitam

#Pakpolisibog #Day5

Sore itu di sebuah beranda rumah tua, duduk manis seorang veteran perang yang ditinggal minggat istrinya lebih dari 20 tahun silam. Veteran itu bercerita bahwa istrinya minggat lantaran sudah tak sudi tinggal dirumah kumuh, kotor, bau, dan tak terurus-bahkan lebih baik kandang ayam daripada rumah tua tersebut.

Diseruputnya kopi hitam pahit yang masih berasap itu. Sebisa mungkin dengan meminum kopi tersebut, rasa rindunya bisa hilang dan lenyap. "Andai aku telah lebih dulu minggat, aku takkan serindu ini padanya" gerutunya dalam kebimbangan.

Bunyi adzan bersahut-sahutan. Orang-orang pesantren mulai sibuk menggubetkan sarung, dan memakai kopiah dari arab yang dibawannya sepulang umroh dan naik haji. Namun, veteran itu tetap diam. Hanya ditemani secangkir kopi hitam, dan luntungan kreteg yang tergelatak manja di hadapannya.

"Hidup ini memang seperti kopi. Pahit. Hitam. Dan tak tentu kehadirannya. Kadang jika ia sedang sangat dibutuhkan, berarti tandannya ia sedang merasa kesepian. Sedangkan ketika ia ditinggalkan, artinya tuan rumah sedang pesta pora dengan rasa penuh kebahagiaan" ia menggeurutu lagi sambil mengambil kreteg dan mulai menghisapnya.

June 21, 2015

Layang-Layang

#Pakpolisiblog #Day4

Memang, menerbangkan layang-layang itu tak semudah menerbangkan pesawat buatan. Tali temali, berat, dan kecepatan angin menjadi prioritas bagi para pemain layang-layang. Namun, itu semua menjadi lebih mudah ketika aku melihatmu sedang membawa rantang ke gubug tempat ayahmu beristirahat. Di gubug itu, kau nampak riang, seperti anak-anak SMP yang habis terima ijazah kelulusan. Jelas, aku tahu betul kenapa senyum itu terlihat lebih lebar. Pasalnya, ia telah dijodohkan oleh seorang pengusaha sukses yang hidup mewah di sebuah perkotaan.

Layang-layangku pun terombang-ambing angin dari utara ke selatan. Aku tarik ulur dengan perlahan, dan layang-layangku kembali menjadi normal. "Ah pantas, diombang-ambingkan itu memang tidak enak" gelisahku dalam batin.

Matahari lenyap, dan senja menjadi pemandangan satu-satunya. Merah merona, ditambah burung-burung yang gundah, terbang kanan ke kiri, seperti ada yang mengganjal. Mungkin sidang? Atau kesaksian akhir zaman?Ah bisa saja aku mengarang, bak penulis yang suka ngawur tentang kisah percintaan.

June 20, 2015

Dua Hari Lagi

#Pakpolisiblog #Day3

Dua hari lagi dipisahkannya aku dan dirimu
antara jarak dan waktu
Dua hari lagi sayup-sayup rindu datang
menghantuiku dan akan selalu menjadi mimpi
buruk ditengah kegelisahanku
Dua hari lagi aku tak lagi mendengar keluh kesahmu
yang terjepit rasa malu
Dua hari lagi hanya langit yang menjadi saksi
betapa aku mencintaimu
Sudah sudah
aku hanya ingin bilang begitu.

June 17, 2015

Antara Percakapan

#Pakpolisiblog #Day1

Air mata itu menetes
dari hati ke hati.
Menggulung langit senja
yang bersembunyi di balik tirai
untuk tetap kokoh berdiri 
bak pahlawan tak kenal kata mati.

Awan datang, perlahan,
menengok tirai itu dan dibukannya
Ketika awan bertanya perihal air matanya
yang mengucur, ia pun tertawa atas 
jawaban langit senja.
Dan awan menambahkan
"Aku akan muncul lagi.
Esok pagi, siang, pagi, siang, dan pagi lagi.
Sedangkan kau hanya ada tatkala semua ini akan
berganti dengan malam yang kerlap-kerlip
dalam nafsu riang yang kan dibunuh
oleh birahi"

Air mata itu kini menetes lagi
Meraba tubuh langit senja
yang padam oleh ganasnya
pekik malam hari.
Percakapan antara awan dan langit senja,
kini hanyut dalam cumbu para bintang
yang berisik di tengah doa sedang dipanjatkan.

June 13, 2015

Read the Instruction First

Bagaimana anda menyikapi karya seni, bukan berarti anda memang infinity terhadap flux itu sendiri. Memang, gerakan fluxus hadir di tahun 60an untuk meniadakan jarak antara karya seni dengan penikmatnya. Sehingga karya itu lebih hidup, melebur menjadi satu kepada para responden yang ingin menikmati karya seni lebih dalam. Beberapa karya-karya di ArtJog memang menggelitik. Tangan-tangan ini seakan ingin terus memainkan jemarinya tuk ikut berpartisipasi dalam proses karya seni.

May 18, 2015

Ku Tunggu Kau Dek Na

Memang, ketika rasa rindu lenyap dimakan waktu, kita hanya bisa diam. Membisu. Kaku. Lalu kita tak dapat lagi membuat rindu itu muncul beterbaran di kampung halaman dan kembali menghidupkan sorak-sorak gembira yang sekarang padam oleh waktu. Hanya kadang kenangan itu muncul begitu saja dan hilang begitu.

May 17, 2015

Sampai Jumpa

Kau ingat?
Kita sering mengucap 
"selamat tinggal, sampai jumpa"
begitu santainya
di akhir perjumpaan kita.

Mungkin kelak, kata itu akan
terkesan begitu sungkawa
jika esoknya,
di halaman rumahku,
telah banyak rombongan
sanak saudara yang
membawa bunga 
dan wajah duka.