August 8, 2015

Begitu

Dari sekian banyak cerita tentang masa lalu, hanya masa lalumu yang selalu menjadi bayangan kehidupanku. Aku sempat mencari tahu tentang kehadiran beberapa orang yang sempat mengisi kekosongan hatimu, dan aku tahu mereka bahkan sebelum aku tanyakan hal itu padamu. Memang, sedikit arus yang menjadikan aku bertanya-tanya "Apa yang seharusnya menjadi ketiadaan pada rasa gelisahku sekarang?".

Beberapa kali, aku selalu mencoba untuk diam dan sedikit menghela nafas panjang. Membiarkan waktu berjalan begitu saja melewati garis-garis cakrawala, dan membiarkan tangan ini membentang, tubuh ini terbaring lemas di atas kebingungan. Ditambah keseharianku yang dikait-kaitkan perihal kegundahan, semakin kesini, semakin aku rasakan kejanggalan.

Dan aku bertanya kepada pohon, langit, bahkan semut-semut yang berjalan dibawah kaki ku -yang membawa sebutir nasi yang mereka angkut bersamaan-, mereka pun tak ayal diam. Dan setiap kali aku ingin bertanya kepadamu, menceritakan beberapa kejanggalan itu, rasanya aku tak mampu. Aku tak mampu mengutarakannya di depanmu, aku hanya bisa membayangkan, berbicara dari hati, dan memikirkannya seperti soal Hukum Newton tentang aksi dan reaksi. Bahwasannya ketika kita melakukan sesuatu hal dengan serius dan nyata, serta doa yang kuat, Tuhan akan berikan apa yang kita harap. Namun sayang, aku selalu lalai dalam hal ini. Aku luput. Aku tak mampu melawan rasa itu sendirian. Mungkin benar, ketika kita ingin membangun hidup yang lebih baik, kita memerlukan rekan kerja yang baik pula. Dimana rekan kerja itu menjadi bagian hidup dari kita, yang tak dipisahkan oleh jarak, waktu, dimensi, dan kata.

Dan dari ribuan pertanyaan yang mengganjal dari balik perasaanku, hanya satu yang menjadi puncak atas gunungan itu, "Bisa kah aku membahagiakanmu?"

Begitu, dengan rasa malu.

No comments:

Post a Comment