Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

September 13, 2018

Apakah

Tulisan ini tidak berkaitan dengan komunisme
apalagi gerakan-gerakan yang serupa
yang mengancam keberadaan Soeharto kala itu.

Sudah, sudah, cukup!
Aku sudah terlalu kenyang dengan
kalimat-kalimat yang repetitif itu!

Lalu aku berjalan ke sebuah rerumputan
Di sana lah aku menemukan ketenangan
sebuah ruang untuk ku bertanya kepada alam,
atau jangan-jangan kepada diriku sendiri?

Kemudian aku bertanya apakah kau mengenali
diriku?

Sebagaimana teriak orang-orang
di bangku hitam, di bawah jembatan itu
yang sering meributkan identitasku
dan merasa paling kenal denganku

Dengan tegas aku mengatakan, bahwa
aku pun belum tahu berapa kali jantung
ini berdenyut sehingga aku masih mampu
untuk menuliskan tulisan ini sebagai
pengantar tidurku?

Sekali lagi aku tegaskan, bahwa
sepenuhnya aku belum tahu bahwa apakah aku
itu adalah aku?Eee...diriku?

Dan dengan lantang kau teriakkan namaku
dan mengaku kepada teman-temanmu kalau kau
mengenali diriku.

diam! Sudah tutup saja mulutmu itu
dengan tangan kirimu!

eh tunggu dulu, atau jangan-jangan,
apakah kau itu adalah aku?

Lalu di tengah rerumputan tadi
aku bangun dari kekosongan
yang tidak benar-benar kosong
lalu aku membiarkan diriku
terbawa oleh angin yang berhembus
dari timur: membawa diriku
hanyut dalam kemesraan yang
tiba-tiba aku rasakan.

July 12, 2017

Saat

Aku sudah lama tidak
menulis puisi untukmu
Aku terperangkap oleh
bayang-bayang masa lalu.


Kadang kau tak tahu
Aku telah mendengarkan


Bahwa aku sering mendengar lagu 
Tapi aku selalu ingat sesuatu.
Apa ya itu?
Kau tidak akan pernah tahu.

lagu itu lebih dari seribu, hanya
untuk mengingatmu.

October 26, 2016

Hingga

Hingga pada saatnya
kita akan sama-sama bertemu
di sebuah tempat
yang kita takkan pernah tau,
dengan waktu yang selalu
memburu
rasa rinduku
kepadamu.

April 14, 2016

Kini

Aku titipkan doa itu
yang kini telah merebah
di pangkuanmu
untuk kesehatan dan kenikmatan
hidup yang selalu kau tunggu.

March 15, 2016

Tuhanku

Tuhanku
jika benar semua ini hanyalah sebuah panggung
sandiwara-Mu, lalu kenapa Kau memilihku 
untuk jadi pemain utama dalam skenario-Mu?

March 14, 2016

Rajutan

Kau pernah memberiku sebuah rajutan
di tengah kebisingan,
yang kau titipkan lewat embusan
angin malam.

Setiap malam, aku ciumi rajutan
itu dari satu sisi ke sisi yang lainnya.
Seperti saat ayahku menciumi keningku
ketika aku kaku dalam bertutur kata.

Rajutan itu sebenarnya hanya rajutan biasa,
yang kau rajut dari ribuan harapan dan doa
setiap malamnya.

Namun,
rajutan itu kini berbeda dari sebelumnya.
Ia berdebu, rapuh, dan mulai tak kuat simpulnya.
Mungkin saja, harapan dan doamu
bukan lagi untukku semata.

Tetap saja, 
aku merindukan rajutan biasamu
yang kau rajut dari ribuan harapan dan doa.

October 28, 2015

Puisi Ayah

Ku temukan sebuah puisi
yang hinggap di atas meja tua
Puisi itu milik seorang Ayah
yang telah lama ditinggal anaknya.
Puisi itu terbaring cukup lama
sejak terbit hingga terbenamnya surya,
di balik malunya cakrawala.

Puisi itu kini aku bawa
Aku bacakan di depan anak-anak
di bawah pohon saat bulan purnama.
Anak-anak pun mendengarnya dengan seksama.
Seakan-akan aku membacakan sebuah dongeng hebat,
seperti dongeng terjadinya danau toba.
Ada yang terdiam, ada yang kebingungan
ada yang hanya mengangguk-angguk, dan ada
yang mulai meneteskan air mata.

Puisi itu kini telah usai aku baca
bersama anak-anak,
yang sejatinya 
telah lama ditinggal oleh Ayahnya.


September 27, 2015

Waktu

Andai aku bisa 
membeli waktu
aku ingin membeli 
1000 tahun waktu
yang aku simpan 
di dalam laci meja belajarku.
Jika diantara kita tengah 
kehabisan waktu, maka aku
akan buka laci meja belajarku,
dan aku berikan waktu itu
sepenuhnya untukmu.

July 18, 2015

Di Sebuah Meja Makan

Ayahku adalah seorang nelayan
Ia mengembara lautan
dari utara ke selatan.
Setiap pulang kerumah,
Ia selalu membawa ikan.
Tak terkira girangnya
aku dan ibu menanti
ikan bakar.

Setelah makan malam,
biasanya ayah memberiku 
nasehat-nasehat sedang.
Tak berat, tak juga ringan
Begini pesannya:
"Nak, kelak kau akan jadi bapak.
Sekolah yang tinggi, jangan seperti bapak.
Hanya sebagai nelayan, yang penghasilannya
diombang-ambingkan ikan.
Bawa keluargamu keluar dari 
derasnya ombak lautan.
Bawa isterimu ke sebuah ranjang,
bukan gulungan tikar.
Bawa anak-anakmu pergi merantau,
menikmati ciptaan Tuhan"

Begitu pesan ayah disampaikan
dibawah remang-remang lilin
disebuah meja makan.

June 29, 2015

Lebaran

#Pakpolisiblog #Day12

Aku hanya ingin
waktu yang berputar
semakin lama semakin
cepat menyentuh lebaran

Karena aku ingin segera
maaf-maafan 
meminta uang
dan akhirnya
kita dipertemukan.

June 26, 2015

Benang Cinta dari Tuhan

#Pakpolisiblog #Day9

Tuhan
jika memang demikian 
cinta itu Kau berikan,
tolong
jaga keutuhuan cinta ini
hingga benang yang menyangkut
di pekik orang-orang
menjadi benang
keadilan.

June 24, 2015

Pada

#Pakpolisiblog #Day7

Pada bunga yang layu
Pada sumur yang kering
Pada tanah-tanah yang tandus
Aku bersaksi
tidak kan pernah hadir
bidadari ke bumi
kecuali itu 
hanya kehadiranmu.

June 20, 2015

Dua Hari Lagi

#Pakpolisiblog #Day3

Dua hari lagi dipisahkannya aku dan dirimu
antara jarak dan waktu
Dua hari lagi sayup-sayup rindu datang
menghantuiku dan akan selalu menjadi mimpi
buruk ditengah kegelisahanku
Dua hari lagi aku tak lagi mendengar keluh kesahmu
yang terjepit rasa malu
Dua hari lagi hanya langit yang menjadi saksi
betapa aku mencintaimu
Sudah sudah
aku hanya ingin bilang begitu.

June 17, 2015

Antara Percakapan

#Pakpolisiblog #Day1

Air mata itu menetes
dari hati ke hati.
Menggulung langit senja
yang bersembunyi di balik tirai
untuk tetap kokoh berdiri 
bak pahlawan tak kenal kata mati.

Awan datang, perlahan,
menengok tirai itu dan dibukannya
Ketika awan bertanya perihal air matanya
yang mengucur, ia pun tertawa atas 
jawaban langit senja.
Dan awan menambahkan
"Aku akan muncul lagi.
Esok pagi, siang, pagi, siang, dan pagi lagi.
Sedangkan kau hanya ada tatkala semua ini akan
berganti dengan malam yang kerlap-kerlip
dalam nafsu riang yang kan dibunuh
oleh birahi"

Air mata itu kini menetes lagi
Meraba tubuh langit senja
yang padam oleh ganasnya
pekik malam hari.
Percakapan antara awan dan langit senja,
kini hanyut dalam cumbu para bintang
yang berisik di tengah doa sedang dipanjatkan.

May 17, 2015

Sampai Jumpa

Kau ingat?
Kita sering mengucap 
"selamat tinggal, sampai jumpa"
begitu santainya
di akhir perjumpaan kita.

Mungkin kelak, kata itu akan
terkesan begitu sungkawa
jika esoknya,
di halaman rumahku,
telah banyak rombongan
sanak saudara yang
membawa bunga 
dan wajah duka.

April 25, 2015

Buku Harian

Aku ingin membuat pesan yang indah
dari tangis yang dulu pernah
aku rontakan kepada buku harianku

Buku harian kuning
kumuh
yang tak terawat itu.

Ya! Pasti kau tau. 
Aku pernah membawannya
di hadapan wajahmu.

Tapi ada yang enggan aku beritahu kepadamu
"Apa itu?" tanyamu lembut
di dekat telingaku.

"Tulisan di dalam buku itu
aku tulis dari tangisku
yang tak sampai pada hatimu" 
jawabku.

April 17, 2015

Permintaan

Tuhan,
kalau Kau ingin aku mati sekarang,
aku punya satu permintaan:

Aku ingin matiku dalam pelukan.

February 19, 2015

Payung Hitam

Di dapur yang berantakan
dibalut kesedihan,
kerumunan orang dengan raut
sedu sedan mulai datang bergerombolan

Mereka membawa bingkisan, amplop, 
dan payung hitam.

"Ini dari kami, tetangga dan keluarga besar
untuk Tuan yang telah dipanggil 
kemarin malam"

Selamat jalan Tuan, semoga engkau
berada tepat di sisi Tuhan.

February 17, 2015

Gagang Pintu

Di depan beranda,
aku mengetuk pintu hatimu
sebanyak tiga kali.

Tak ada jawaban atas
ketukan tanganku
yang membisingkan sunyi.

Malah,
tetanggamu berbisik kepadaku
"ssssst, orangnya lagi pergi"

Aku pun mengurungkan diri,
sambil melihat gagang pintumu
yang rapuh dan enggan kau buka lagi.

December 11, 2014

Tetangga Sebelah

Ibu memanggil namamu tiga kali.
Namun suara itu terdengar rintih
seperti suara bisik dari tetangga
sebelahmu yang sedang asik menggibahi
tetangga sebelahnya lagi.

Ibu menjahit bajumu dari air kali.
Dengan jarum yang terbuat dari
tajamnya lidah tetangga sebelahmu
yang sedang asik menggibahi
tetangga sebelahnya lagi.

Ibu menjemputmu dengan jalan kaki.
Sedang kau malah asik menggibahi
tetanggamu yang sedang asik menggibahi
tetangga sebelahnya lagi.